Soul Mate

March 6th, 2007 by gms-doublek

Hampir setiap hari saat menyimak stasiun radio Kristen, saya mendengarkan sebuah iklan tentang layanan kencan online yang menyatakan dapat membantu saya untuk menemukan soul mate atau orang yang tepat (the one). Saya telah kebal terhadap iklan tersebut, sampai sebuah percakapan dengan seorang teman wanita membuat saya ingin tahu apa yang sebenarnya mereka jual.

Satu malam, teman saya, Emily membicarakan tentang betapa hebat pacarnya dan bahwa mereka telah mendiskusikan pernikahan. Teman kami lainnya, seorang pria, yang pernah tertarik pada Emily, pasti telah berpikir seperti yang saya pikirkan dan segera bertanya, “Berapa lama kalian berdua telah berkencan?”

“Sekitar sebulan,” katanya.

Ia dengan segera menyadari reaksi yang tidak biasa dan menambahkan, “Tetapi, saat kamu telah menemukan orang yang tepat (the one), kamu akan langsung tahu.”

Saya tersenyum dan berkata bahwa saya turut berbahagia dan demikian juga teman kami yang lainnya, meskipun saya tahu ia cemburu dan tidak bermaksud demikian.

Novel romantis, majalah dan film mendapat keuntungan dengan menjual konsep soul mate. Tetapi, apakah memang ada seseorang yang telah ditakdirkan untuk menikah dan berbahagia dengan kita sampai seumur hidup?

Lirik lagu dari musik tahun 80-an secara rutin berputar sekitar bertemu dengan seseorang yang istimewa yang membuat hidup sang musisi menjadi lengkap. Musiknya luar biasa dan memberikan perasaan hangat yang samar-samar saat kita mendengarkan bintang rock itu menyanyikan cinta dalam hidup mereka. Namun, kita gagal menyadari apabila para musisi itu tidak bangkrut karena rehabilitasi dan tunjangan perceraian, mereka akan menulis lagu-lagu baru tentang betapa mereka membenci wanita yang sama.

Saya tidak akan berbohong dan berkata saya tidak menangis saat pertama mendengar Jerry Maguire (dalam film berjudul sama) berkata “Engkau membuat saya lengkap.” Saya sama bersalahnya dengan orang lain dalam mempercayai kemungkinan bahwa Tuhan telah memilih dengan tangan-Nya sendiri seorang pasangan bagi saya, dan kami akan berada dalam suatu kehidupan yang berbahagia selamanya. Namun, saya juga seorang realis, sehingga saya mulai mencari melalui dua sumber yang paling saya percayai: Google dan Alkitab.

Google memberikan hasil pencarian sebanyak 6,3 juta. Saya memiliki pekerjaan dan kehidupan sosial, sehingga saya hanya membuat beberapa pilihan. Nampaknya, semua orang ingin mencari soul mate mereka dan terdapat juga 6,3 juta cara untuk melakukan pencarian. Ironisnya, kebanyakan dari situs tersebut memberi informasi bahwa mereka dapat menemukan soul mate saya dengan harga yang sangat minimal. Saya berpikir: Bukankah seorang soul mate – bila memang hal seperti itu ada – seharsunya berharga lebih dari “harga minimal”?

Pencarian saya selanjutnya adalah menelaah apa yang Tuhan katakan tentang soul mate. Sayangnya, saya tidak dapat menemukan kata “soul mate” dalam konkordasi dari ketiga versi Alkitab yang saya miliki.

Saya berpikir kembali: Mungkin seseorang menciptakan terminologi itu (soul mate) bertahun-tahun setelah kanon ditutup. Saya mulai membaca semua contoh pernikahan dalam Alkitab dan hal itu juga tidak banyak membantu. Selain Tuhan mencabut sebuah tulang rusuk Adam dan menghadirkan Hawa, saya tidak dapat mencari contoh lain yang dapat menyamai teori soul mate modern.

Tuhan menyuruh Hosea untuk menikahi seorang pelacur, tetapi Ia tidak secara spesifik menyebutkan Gomer. Pelayan yang menemukan Rebeka di sumur bagi Ishak, tidak mencari Rebeka. Ia mencari perempuan pertama yang memberi air bagi onta-ontanya dan setuju untuk meninggalkan keluarganya. Salomo memiliki paling tidak 300 istri, apakah setiap mereka merupakan soul mate Salomo?

Karena Alkitab tidak menawarkan hasil seperti apa yang saya percayai, saya mulai bertanya pada beberapa pendeta. Secara mengejutkan, tidak ada di antara mereka yang memberikan pernyataan yang sesuai dengan teori soul mate. Salah satunya bahkan bertanya: Bagaimana kita mengkategorikan seorang janda yang menikah lagi? Seorang lainnya mengemukakan tentang tingginya angka perceraian dan berkata, “Orang kadang-kadang meninggalkan hubungan cinta dan pernikahan karena hubungan itu merupakan suatu kerja keras dan mereka percaya bahwa “orang yang tepat” masih ada di luar sana.”

Akhirnya, saran terbaik yang saya terima datang dari seorang pendeta yang berkata, “Media massa dari budaya modern kita ini telah menghancurkan konsep soul mate, karena ‘soul’ (jiwa) saat ini bisa berarti segala sesuatu yang metafisis dan ‘mate’ (pasangan) bisa berarti siapa saja.” Ia juga berkata, “Seseorang yang harus kita cari adalah Yesus, dan Ia akan membantu kita berubah sehingga kita dapat menjalankan pernikahan yang baik dengan siapa pun.”

Hal itu merupakan konsep yang tidak biasa: Menikah dengan siapa saja dapat berlangsung dengan baik asalkan kita mengikuti tuntunan Tuhan dan berkomitmen pada -Nya setiap hari. Hal itu masuk akal, meskipun saya telah melihat banyak orang yang jatuh cinta dan patah hati lebih cepat daripada mereka mengganti kaus kaki. Apabila kita bertumpu kepada perasaan jatuh cinta, maka hal itu secara jelas tidak akan berlangsung dengan baik.

Di atas segala alasan, saya tidak mau membeli teori soul mate dan itu lah yang menyebabkan saya tidak pernah membayar sebesar US $ 49.95 pada sebuah situs internet yang tidak tahu apa pun tentang saya untuk menemukan soul mate dari daftar wanita yang juga membayar sebesar US $ 49.95.

Sumber: Ryan Barnhart - relevantmagazine.com

More of You, Less of Me

January 31st, 2007 by gms-doublek

Ketika aku menghadap Sang Pencipta di penghakiman akhir, aku bersujud bersama jiwa – jiwa yang lain dihadapan-Nya. Di hadapan tiap – tiap kami terbentang kehidupan kami. Seperti potongan kain untuk selimut, bertumpuk – tumpuk. Malaikat duduk di depan tiap kami menjahit tiap – tiap potongan hidup menjadi sebuah sulaman yang melambangkan seluruh kehidupan kami. Tiap Malaikatku mengambil potongan kain kehidupanku, aku menyadari betapa tiap potongan nya terlihat kasar dan kosong. Banyak lobang – lobang besar di tiap – tiap potongan yang melambangkan masa – masa sukarku, tantangan dan godaan yang ku alami setiap hari. Apalagi dimasa kesengsaraanku, meninggalkan lobang yang sangat besar.

Kulihat sekelilingk, tak seorangpun yang punya berlubang seperti punyaku, hanya lobang – lubang kecil di sana sini, ada juga yang tersusun oleh warna warni yang menarik, warna kemakmuran duniawi. Ku tatap kehidupanku sendiri, dan kecewa. Malaikatku seperti menjahit angin ketika menjahit potongan – potongan kasarku, kelihatan kusam dan kosong.

Tiba waktunya untuk menunjukkan tiap – tiap kehidupan kami dengan mengangkatnya tinggi – tinggi ke Cahaya – Pemeriksa Kebenaran. Tiap – tiap kami berdiri mengangkat sulaman kehidupannya masing – masing, betapa penuhnya hidup mereka dulu. Malaikatku memandang dan memintaku untuk berdiri.

Aku tertunduk malu. Aku belum memiliki semua kemakmuran dunia. Aku punya cinta dan keceriaan di hidupku, tetapi tetap ada cobaan kesakitan, kekayaan dan fitnah yang menjauhkanku dari semua. Aku harus mengulang lagi dari awal. Aku selalu berjuang dengan rasa ingin menyerah, hanya untuk sekumpulan tenaga untuk bangkit dan memulai lagi. Aku juga menghabiskan banyak malam dengan berlutut dan berdoa, meminta bantuan dan bimbingan dalam hidupku. Sering aku bersabar akan ejekan. Juga tiap kali aku memberikan semua kesusahanku ke Bapa dengan harapan aku tidak akan hancur dalam pandangan penghakiman orang lain. Tapi sekarang yang kuhadapi adalah kenyataan. Inilah hidupku, aku harus menerima kehidupanku. Aku perlahan bangkit dan mengangkat hidupku ke Cahaya.

Rasa kagum memenuhi ruangan. Aku memandang orang – orang yang terbelalak melihat ku. Kemudian kulihat ke rajutan hidup di depanku. Cahaya menembus banyak lubang, membentuk sebuah gambar, Wajah Tuhan Yesus. Kemudian Bapa berdiri di hadapanku, dengan tatapan penuh kehangatan dan cinta Dia berkata, “ Tiap kali kau menyerahkan hidupmu pada Ku, itu menjadi hidup Ku, kesengsaraan Ku, perjuangan Ku. Tiap titik cahaya di hidupmu melambangkan ketika kau biarkan Aku bersinar di kelemahanmu KuasaKu sempurna”.

Semoga tiap – tiap kita selimut hidup nya menjadi usang dan lusuh, mempersilahkan Tuhan Yesus bersinar menembusnya.

Tuhan Memberkati

ELLEN :)

Dua pilihan

January 25th, 2007 by gms-doublek

Dua Pilihan

Dear all,

Kiranya cerita ini dapat menjadi perenungan kita dalam menjalani
kehidupan. Sudahkah kita menggunakan "pilihan yang tepat" itu..

Dua Pilihan

Pada sebuah jamuan makan malam pengadaan dana untuk sekolah anak-anak
cacat, ayah dari salah satu anak yang bersekolah disana menghantarkan
satu pidato yang tidak mungkin dilupakan oleh mereka yang menghadiri
acara itu. Setelah mengucapkan salam pembukaan, ayah tersebut mengangkat
satu topik:

‘Ketika tidak mengalami gangguan dari sebab-sebab eksternal, segala
proses yang terjadi dalam alam ini berjalan secara sempurna/ alami.
Namun tidak demikian halnya dengan anakku, Shay. Dia tidak dapat
mempelajari hal-hal sebagaimana layaknya anak-anak yang lain. Nah,
bagaimanakah proses alami ini berlangsung dalam diri anakku? ‘

Para peserta terdiam menghadapi pertanyaan itu.

Ayah tersebut melanjutkan: "Saya percaya bahwa, untuk seorang anak
seperti Shay, yang mana dia mengalami gangguan mental dan fisik sedari
lahir, satu-satunya kesempatan untuk dia mengenali alam ini berasal dari
bagaimana orang-orang sekitarnya memperlakukan dia"

Kemudian ayah tersebut menceritakan kisah berikut:
Shay dan aku sedang berjalan-jalan di sebuah taman ketika beberapa orang
anak sedang bermain baseball. Shay bertanya padaku, "Apakah kau pikir
mereka akan membiarkanku ikut bermain?" Aku tahu bahwa kebanyakan
anak-anak itu tidak akan membiarkan orang-orang seperti Shay ikut dalam
tim mereka, namun aku juga tahu bahwa bila saja Shay mendapat kesempatan
untuk bermain dalam tim itu, hal itu akan memberinya semacam perasaan
dibutuhkan dan kepercayaan untuk diterima oleh orang-orang lain, diluar
kondisi fisiknya yang cacat.

Aku mendekati salah satu anak laki-laki itu dan bertanya apakah Shay
dapat ikut dalam tim mereka, dengan tidak berharap banyak. Anak itu
melihat sekelilingnya dan berkata, "kami telah kalah 6 putaran dan
sekaran sudah babak kedelapan. Aku rasa dia dapat ikut dalam tim kami
dan kami akan mencoba untuk memasukkan dia bertanding pada babak
kesembilan nanti’
Shay berjuang untuk mendekat ke dalam tim itu dan mengenakan seragam tim
dengan senyum lebar, dan aku menahan air mata di mataku dan kehangatan
dalam hatiku. Anak-anak tim tersebut melihat kebahagiaan seorang ayah
yang gembira karena anaknya diterima bermain dalam satu tim.

Pada akhir putaran kedelapan, tim Shay mencetak beberapa skor, namun
masih ketinggalan angka. Pada putaran kesembilan, Shay mengenakan
sarungnya dan bermain di sayap kanan. Walaupun tidak ada bola yang
mengarah padanya, dia sangat antusias hanya karena turut serta dalam
permainan tersebut dan berada dalam lapangan itu.
Seringai lebar terpampang di wajahnya ketika aku melambai padanya dari
kerumunan. Pada akhir putaran kesembilan, tim Shay mencetak beberapa
skor lagi. Dan dengan dua angka out, kemungkinan untuk mencetak
kemenangan ada di depan mata dan Shay yang terjadwal untuk menjadi
pemukul berikutnya.

Pada kondisi yg spt ini, apakah mungkin mereka akan mengabaikan
kesempatan untuk menang dengan membiarkan Shay menjadi kunci kemenangan
mereka?
Yang mengejutkan adalah mereka memberikan kesempatan itu pada Shay.
Semua yang hadir tahu bahwa satu pukulan adalah mustahil karena Shay
bahkan tidak tahu bagaimana caranya memegang pemukul dengan benar,
apalagi berhubungan dengan bola itu.

Yang terjadi adalah, ketika Shay melangkah maju kedalam arena, sang
pitcher, sadar bagaimana tim Shay telah mengesampingkan kemungkinan
menang mereka untuk satu momen penting dalam hidup Shay, mengambil
beberapa langkah maju ke depan dan melempar bola itu perlahan sehingga
Shay paling tidak bisa mengadakan kontak dengan bola itu. Lemparan
pertama meleset; Shay mengayun tongkatnya dengan ceroboh dan luput.
Pitcher tsb kembali mengambil beberapa langkah kedepan, dan melempar
bola itu perlahan kearah Shay. Ketika bola itu datang, Shay mengayun
kearah bola itu dan mengenai bola itu dengan satu pukulan perlahan
kembali kearah pitcher. Permainan seharusnya berakhir saat itu juga,
pitcher tsb bisa saja dengan mudah melempar bola ke baseman pertama,
Shay akan keluar, dan permainan akan berakhir.

Sebaliknya, pitcher tsb melempar bola melewati baseman pertama, jauh
dari jangkauan semua anggota tim. Penonton bersorak dan kedua tim mulai
berteriak, "Shay, lari ke base satu! Lari ke base satu!". Tidak pernah
dalam hidup Shay sebelumnya ia berlari sejauh itu, tapi dia berhasil
melaju ke base pertama. Shay tertegun dan membelalakkan matanya.
Semua orang berteriak, "Lari ke base dua, lari ke base dua!"

Sambil menahan napasnya, Shay berlari dengan canggung ke base dua. Ia
terlihat bersinar-sinar dan bersemangat dalam perjuangannya menuju base
dua. Pada saat Shay menuju base dua, seorang pemain sayap kanan memegang
bola itu di tangannya. Pemain itu merupakan anak terkecil dalam timnya,
dan dia saat itu mempunyai kesempatan menjadi pahlawan kemenangan tim
untuk pertama kali dalam hidupnya. Dia dapat dengan mudah melempar bola
itu ke penjaga base dua. Namun pemain ini memahami maksud baik dari sang
pitcher, sehingga diapun dengan tujuan yang sama melempar bola itu
tinggi ke atas jauh melewati jangkauan penjaga base ketiga. Shay berlari
menuju base ketiga.
Semua yang hadir berteriak, "Shay, Shay, Shay, teruskan perjuanganmu
Shay"

Shay mencapai base ketiga saat seorang pemain lawan berlari ke arahnya
dan memberitahu Shay arah selanjutnya yang mesti ditempuh. Pada saat
Shay menyelesaikan base ketiga, para pemain dari kedua tim dan para
penonton yang berdiri mulai berteriak, "Shay, larilah ke home, lari ke
home!". Shay berlari ke home, menginjak balok yg ada, dan dielu-elukan
bak seorang hero yang memenangkan grand slam. Dia telah memenangkan game
untuk timnya.

Hari itu, kenang ayah tersebut dengan air mata yang berlinangan di
wajahnya, para pemain dari kedua tim telah menghadirkan sebuah cinta
yang tulus dan nilai kemanusiaan kedalam dunia.

Shay tidak dapat bertahan hingga musim panas berikut dan meninggal musim
dingin itu. Sepanjang sisa hidupnya dia tidak pernah melupakan momen
dimana dia telah menjadi seorang hero, bagaimana dia telah membuat
ayahnya bahagia, dan bagaimana dia telah membuat ibunya menitikkan air
mata bahagia akan sang pahlawan kecilnya.

Seorang bijak pernah berkata, sebuah masyarakat akan dinilai dari cara
mereka memperlakukan seorang yang paling tidak beruntung diantara
mereka.

Catatan kaki:
Kita sering mengirim ribuan jokes lewat email tnp pikir panjang, namun
bila kita harus mengirimkan mail tentang pilihan dalam hidup, kita
seringkali ragu. Kejadian-kejadian vulgar, kasar dan mengerikan acap
terjadi dalam hidup ini,namun pembicaraan tentangnya seolah tertelan
waktu, baik itu di lingkungan pendidikan atau kerja.

Jika Anda berpikir untuk forward email ini, kemungkinannya Anda akan
memilih daftar orang-orang dari email address Anda yang Anda pikir layak
untuk menerima email Anda. Ingatlah, bahwa orang yang mengirimi Anda
email ini berpikir bahwa kita semua dapat membuat perbedaan.

Kita semua mempunyai banyak pilihan dalam hidup setiap harinya untuk
dapat memahami "kejadian alami dalam hidup". Begitu banyak hubungan
antar 2 manusia yang kelihatan remeh, sebenarnya telah meninggalkan 2
pilihan bagi kita:
Apakah kita telah meninggalkan cinta dan kemanusiaan atau, Apakah kita
telah melewatkan kesempatan untuk berbagi kasih dengan mereka yang
kurang beruntung, yang menyebabkan hidup ini menjadi dingin?

by Eln84

Who is HE?

January 24th, 2007 by gms-doublek

Consider the themes of the sixty-six books:

Who is He ?
In Genesis, He is the Creator God.
In Exodus, He is the Redeemer.
In Leviticus, He is your sanctification.
In Numbers, He is your guide.
In Deuteronomy, He is your teacher.
In Joshua, He is the Mighty Conqueror.
In Judges, He gives victory over enemies.
In Ruth, He is your Kinsman, your Lover, your Redeemer.
In I Samuel, he is the Root of Jesse;
In 2 Samuel, He is the Son of David.
In 1 Kings and 2 Kings, He is King of Kings and Lord of Lords
In 1st and 2nd Chronicles, He is your Intercessor and High Priest.
In Ezra, He is your Temple, your House of Worship.
In Nehemiah, He is your Mighty Wall, protecting you from your enemies.
In Esther, He stands in the gap to deliver you from your enemies.
In Job, He is the Arbitrator who not only understands your struggles,
but has the power to do something about them.
In Psalms, He is your song-and your reason to sing.
In Proverbs, He is your wisdom, helping you make sense of life and
live it successfully.
In Ecclesiastes, He is your purpose, delivering you from vanity.
In the Song of Solomon, He is your Lover, your Rose of Sharon.
In Isaiah, He is the Mighty Counselor, the Prince of Peace, the
Everlasting Father, and more. In short, He’s everything you need.
In Jeremiah, He is your Balm of Gilead, the soothing salve for your
sin-sick soul.
In Lamentations, He is the Ever-Faithful One upon whom you can depend.
In Ezekiel, He is your wheel in the middle of a wheel-the One who
assures that dry, dead bones will come alive again.
In Daniel, He is the Ancient of Days, the Everlasting God who never
runs out of time.
In Hosea, He is your faithful lover, always beckoning you to come
back-even when you have abandoned Him.
In Joel, He is your refuge, keeping you safe in times of trouble.
In Amos, He is the Husbandman, the one you can depend on to
stay by your side.
In Obadiah, He is Lord of the Kingdom.
In Jonah, He is your Salvation, bringing you back within His will.
In Micah, He is Judge of the nation.
In Nahum, He is the Jealous God.
In Habakkuk, He is the Holy One.
In Zephaniah, He is the Witness.
In Haggai, He overthrows the enemies
In Zechariah, He is Lord of Hosts.
In Malachi, He is the Messenger God.

In Matthew, He is king of the Jews.
In Mark, He is the Servant.
In Luke, He is the Son of Man, feeling what you feel.
In John, He is the Son of God.
In Acts, He is Savior of the world.
In Romans, He is the Righteousness of God.
In I Corinthians, He is the Rock that followed Israel.
In II Corinthians, He is the Triumphant one, giving victory.
In Galatians, He is your liberty; He sets you free.
In Ephesians, He is Head of the Church.
In Philippians, He is your joy.
In Colossians, He is your completeness.
In I Thessalonians, He is your hope.
In II Thessalonians, He is your patience and discipline.
In I Timothy, He is your faith.
In II Timothy, He is your stability.
In Titus, He is the Truth.
In Philemon, He is your benefactor.
In Hebrews, He is your perfection.
In James, He is the Power behind your faith.
In I Peter, He is your example.
In II Peter, He is your purity.
In I John, He is your life.
In II John, He is your pattern.
In III John, He is your motivation.
In Jude, He is the Foundation of your faith.
In the Revelation, He is your coming King.

From the beginning of the world to its end, there is no place you can
look and not see Jesus. He is everywhere. He is everything. "He is
before all things, and in Him all things hold together."
(Colossians 1:17)

– Author Unknown

by Eln84